blog*spot
get rid of this ad
ESAI-ESAI CERPEN DI MEDIA MASSA
  ESAI-ESAI CERPEN DI MEDIA MASSA  

Situs khusus kasak-kusuk tentang cerita pendek, dan sama sekali tidak berorientasi profit. [dikelola swadaya-nirlaba oleh Agustinus Wahyono]

 

 

JALINAN KARYA  


 [> BEDAH CERPEN

 [> Kumpulan Cerpen

 [> Kumpulan Sajak

 [> STASIUN UTAMA 


 
Yogyakarta dan Barometer Cerita Pendek Indonesia

oleh Joni Ariadinata

Saat ini, memasuki milenium ke tiga, di saat negara-negara tetangga kita (Malaysia, Singapura, Pilipina, dan kemudian menyusul Cina serta India) sudah mulai mensejajarkan diri di panggung global; Indonesia justru terpuruk dan kehilangan kesejarahannya. Kita tetap meyakini sebagai bangsa yang luhur, halus, berbudi pekerti dan sopan santun; tapi kekerasan dan kebrutalan (teror, pembunuhan, penjarahan) adalah fakta yang menghancurkan harga diri bangsa di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia, kini lebih dikenal sebagai salah satu negara terbelakang yang kasar dan primitif.

Tingkat korupsi, moral para politisi, pejabat negara, aturan hukum, nyaris semuanya terpuruk. Ada lompatan besar kebudayaan yang salah, yang harus dibayar mahal, dan membutuhkan waktu satu generasi untuk memperbaikinya; yakni budaya tulis (dan baca). Kita telanjur melompat dari budaya lisan menuju audio-visual.

Sistematika peradaban di manapun, pada negara-negara yang kuat dan maju, mau tidak mau harus melewati 3 tahapan kebudayaan, yakni: (1) budaya lisan, (2) budaya tulis (dan baca), dan (3) audio-visual. Pada tahapan ke-2 itulah, kesusastraan memegang kunci sebagai gerbang untuk mengenal bacaan, mengenal sistematika tulisan, dan merangsang daya fikir untuk bertanya. Membaca dan menulis, dipercaya sebagai rangkaian kesatuan yang mutlak dibutuhkan sebagai basis ilmu pengetahuan. Daya serap bacaan, serta kemampuan merangkaikan logika dalam tulisan, merupakan salah satu indikator kuatnya sumber daya manusia dalam sebuah negara. Maka adalah layak jika kesusastraan mendapatkan tempat yang cukup terhormat di banyak negara-negara maju.

Dan kita, Indonesia, yang mendapatkan diri sebagai bangsa yang sangat rendah daya bacanya; telah berani melompat jauh menembus budaya audio-visual yang sungguh miskin analisis. Tanpa basis baca-tulis yang kuat, lewat budaya audio-visual; kita hanya akan dididik menjadi sebuah generasi pemakan yang sungguh tidak akan berdaya menghadapi serbuan konsumerisme yang tanpa batas. Tentu, untuk memperbaikinya, sekali lagi butuh waktu yang tidak pendek, dan juga tidak gampang.

Kemungkinan Baru

Cerita pendek, adalah salah satu genre sastra di samping puisi dan novel. Dilihat dari segi pertumbuhan (produktivitas) dan perkembangannya, secara umum karya-karya sastra Indonesia memperlihatkan fenomena yang sangat luar biasa. Banyak muncul karya-karya yang menawarkan kemungkinan baru baik dari segi eksplorasi bahasa, penjelajahan tema dan keberanian bereksperimentasi, serta tumbuhnya sastrawan-sastrawan muda potensial yang penuh wawasan estetik dan gagasan kreatif.

Tapi kenyataan di atas terus-menerus berbanding terbalik; antara pertumbuhan dan perkembangan yang penuh gairah, dengan tidak adanya respons setimpal dari pihak-pihak yang diharapkan. Dari segi pembaca, ia masih membutuhkan mediator yang secara terus-menerus harus berupaya memberi kepercayaan dan keyakinan tentang betapa pentingnya kesusastraan untuk kepentingan bangsa. Dari segi media, ia masih membutuhkan tampungan yang memadai untuk berbagai eksplorasi karya.

Cerita pendek Indonesia, sebagai genre termuda dibandingkan puisi dan novel; memperlihatkan karakteristik dan perkembangannya sendiri yang sangat khas dibandingkan cerita pendek yang berkembang di negara-negara lain. Cerita pendek di Indonesia, mulai dikenal pada awal-awal tahun 1910-an, lewat kisah-kisah pendek yang ditulis M. Kasim dan Suman Hs. Genre ini kedudukannya semakin menguat ketika zaman pendudukan Jepang, dimana pemerintahan Jepang pada waktu itu, -- dengan tujuan politis -- memberikan banyak fasilitas bagi penyebaran cerita pendek lewat koran Asia Raja dan Djawa Baroe. Setelah runtuh pemerintahan Jepang, pada era tahun 50-an hingga 60-an lahirlah majalah-majalah yang khusus memuat cerita pendek, yakni majalah Tjerpen, Prosa, dan Kisah.

Berbagai eksplorasi cerita pendek bermunculan dengan sangat pesat, hingga kemudian muncul majalah Horison pada tahun 66, dan mengukuhkan sederet nama penulis cerita pendek Indonesia yang sangat berwibawa.

Pada era 70-an, hingga sekarang memasuki abad ke 21; pertumbuhan cerita pendek semakin kokoh dan diperhitungkan keberadaannya. Pada era ini pulalah, cerita pendek Indonesia menunjukkan fenomena yang sangat spesifik. Nyaris seluruh media di Indonesia, dari mulai koran, tabloid, majalah, serta jurnal, menyisipkan cerita pendek sebagai bagian yang cukup penting -- hal yang tidak terjadi di negara lain. Tentu, produktivitas (kuantitas) penulisan cerita pendek yang begitu melimpah-ruah ini, akan menjadi bumerang dari segi kualitas.

Bagaimanapun, karya sastra tetap memiliki seperangkat teori dan hukum-hukum tersendiri yang dapat menentukan apakah karya itu memiliki bobot dan kualitas sebagai karya sastra.

Dari sisi inilah, ide Yayasan Cerita Pendek Indonesia digulirkan di Yogyakarta -- kota yang merupakan salah satu barometer kebudayaan. Beberapa penulis cerita pendek, akademisi, kritikus sastra, dan didukung 2 penerbit besar, telah sama-sama berkumpul satu meja dan merumuskan sebuah wadah yang memungkinkan menjadi mediator bagi pertumbuhan cerita pendek yang sehat. Dengan tujuan ikut merentangkan jembatan ke arah keseimbangan dan kemajuan perkembangan cerita pendek Indonesia secara khusus, dan secara umum ikut memberikan kontribusi ke arah penguatan daya baca lewat gerbang kesusastraan.

Salah satu bentuk dari gerakan ini yang telah terwujud, adalah dengan diterbitkannya Jurnal Cerpen Indonesia, yang telah diluncurkan beberapa bulan yang lalu. Tentu, bantuan dan dukungan dari semua pihak, akan memuluskan tujuan ini. Indonesia, adalah sebuah negara dengan wilayah yang sangat-sangat besar; yang menuntut semua sisi untuk bergabung, berfikir, dan terutama: berbuat. (q-k)

*******
*) Joni Ariadinata, Cerpenis, Pecinta Indonesia.

[tulisan ini dimuat di rubrik budaya harian Kedaulatan Rakyat, edisi Minggu, 14-07-2002]




  
penata: agustinus jam 3:31 AM


Friday, September 05, 2003  

 
Membaca Cerpen Massa Indonesia

oleh Binhad Nurrohmat

JONI Ariadinata (JA), salah satu cerpenis terkemuka menulis Yogyakarta dan Barometer Cerita Pendek Indonesia (Kedaulatan Rakyat/KR, Minggu 14 Juli 2002). Dalam tulisannya itu JA mengungkap sikap dan pandangan pribadinya: haru mendalam sekaligus secercah harapannya pada kondisi mutakhir bangsa dan cerita pendek Indonesia. Tak hanya sampai di situ. JA pun berusaha meneropong lebih jauh dengan cara pandang sangat makro-general dan menganalisisnya dengan nalar argumentasi sangat lurus sehingga kedua kondisi itu sungguh-sungguh tampak berkorelasi positif-signifikan.

JA tampak tak sekadar ingin keluh-kesah di situ, asal berharap atau malah berangan muluk saat mengalami dan menyikapi kondisi mutakhir bangsa dan cerita pendek Indonesia. Sebagai seniman sikap JA patut diapresiasi: ia tak suntuk dalam kerja kreatif individualnya belaka, ia juga peduli terhadap perkara-perkara besar di luar dirinya dan berusaha melakukan semacam dialektika terhadapnya, juga semacam solusi nyata. Sikap itu adalah sikap seniman yang tak ''egois'', produktif bagi banyak pihak.

Jurnal Cerpen Indonesia (JCI) adalah jawaban nyata kerjanya atas semua haru dan harapannya itu. Menurutnya JCI bisa jadi bagian penting dari sebuah solusi fundamental di antara solusi-solusi lain yang sangat urgen bagi bangsanya: melek baca melalui tradisi teks sastra - sebuah tradisi teks yang ''canggih'' yang telah jadi standar kebudayaan bangsa yang besar. Kerja nyata Joni itu objektif dan strategis - meski belum benar-benar hebat - di tengah kerusakan multidimensional yang menghantam bangsa Indonesia. Kondisi produk sosial, politik, ekonomi Indonesia sama sekali tak bisa dibanggakan dan diandal-andalkan di mata bangsa sendiri apalagi bangsa lain, tapi berbagai produk artistik bangsa Indonesia justru menampakkan eksistensinya (dalam berbagai kadar kualitas) di tengah kerusakan multidimensional itu. Cerpen adalah salah satu produk artistik yang bisa ''dibanggakan'' eksistensinya.

Bahaya Cerpen Massa

Saya sudah membaca ratusan bahkan mungkin ribuan cerpen di lembaran media massa koran, majalah, tabloid, jurnal, dan buku. Produksi teks yang dahsyat itu rutin berbondong-bondong mendatangi massa dengan cara membonceng industri media massa itu, meski tampak marginal dari porsi ruang, konsistensi kehadirannya tampak istimewa, bandel, dan mengeras di tengah dominasi riuhnya berita, gosip dan iklan.

Teks-teks cerpen itu juga tampak ingin menampakkan sejumlah pose dengan usaha (saya meminjam frasa-frasa statemen JA) ''eksplorasi bahasa, penjelajahan tema, dan keberanian eksperimentasi''. Tak sekadar hadir, tak cuma sebuah cerita. Sejauh mana usaha-usaha itu terbukti JA tak menyebut contoh cerpenis dan karyanya untuk melengkapkan statemennya itu. Statemennya itu tak memberikan semacam info apresiatif kepada publik cerpen secara genah. Mung-kin, itu tugas kritikus, dan JA adalah kreator.

Dalam pengamatan, cerpen di media massa ada yang sangat menarik dan ba-nyak juga yang menyebalkan dengan perbandingan jumlah yang sangat njomplang. Di tengah ramainya produksi cerpen itu memang semakin tak mudah mencipta sesuatu yang ''berbeda'', berbagai kemungkinan bentuk dan ide seolah sudah dilakukan orang lain, akhirnya fenomena interteks dan bahkan reproduksi sulit dihindarkan. Lalu muncul semacam ''cerpen massa'', cerpen yang kehilangan kepribadian.

Banyak cerpenis cenderung menjadi ''mesin'' yang memenuhi kebutuhan media massa, membuatnya kehilangan otoritas kreasi yang khas, yang berpribadi, dan orisinalitasnya nyungsep dalam tuntutan industrial yang cepat dan massal. Dibutuhkan ketekunan dan ''kegilaan'' untuk melawan kecenderungan itu, lewat studi, diskusi, dan mungkin juga proses kreatif pribadi yang sakit, tak lazim, semacam Dostoyevski melakoni kepahitan dan kesakitan nyata yang diolah untuk novel-novelnya. Intinya totalitas penciptaan. Atau kekuatan observasi semacam Rudyard Kippling.

Saya percaya pertumbuhan kuantitas cerpen Indonesia mutakhir berbanding lurus dengan pertumbuhan industri media massa cetak. Spirit industrial menjadi demikian intim bagi pertumbuhan cerpen Indonesia mutakhir. Istilah ''Cerpen Ko-ran'' tak terlalu meleset dan memiliki dasar dan argumen historis tak tersangkal. Dan ini tak sepenuhnya sesuatu yang berbahaya selama tenaga kreatif tak diperbudak oleh tuntutan arus industri media massa itu. Arus kreatif yang harusnya berpribadi akan pecah menjadi arus massa bila dorongan penciptaan berada dalam agenda rutin-massal industri media massa. Ada beberapa penulis cerpen koran yang mampu menunjukkan kualitas yang khas juga di antara kerumunan penulis dan cerpennya yang terbelakang.

JCI sebagai sebuah media baru pasti mengasumsikan semacam eksperimentasi, sebuah usaha untuk membangun atmosfir lain, tapi sampai saat ini memang belum muncul bentuk dan ide kreatifnya yang khas sebab para penulisnya masih mewarisi ''ideologi'' cerpen koran, sebuah ide penulis-an yang berpihak pada sesuatu yang bersifat massal. Perjalanan ke depan masih terlalu panjang. Sebagai sebentuk usaha patut dihargai tanpa harus merasa tak perlu lagi mengapresiasi cerpen yang ada di medium lain. Tak bersikap eksklusif. Medium bukan ukuran kualitas cerpen. Ukuran kualitas adalah karya, teks. (q-k)

*******

*) Binhad Nurrohmat, Kurator Indonesia Literature Watch.

[tulisan ini dimuat di rubrik budaya harian Kedaulatan Rakyat, edisi Minggu, 11-08-2002]


  
penata: agustinus jam 7:59 AM


Thursday, August 28, 2003  

 
Bahasa ABG dalam Cerpen Remaja: Implikasi Pengajarannya bagi Siswa/i Sekolah Menegah di Australia

Oleh: Nyoman Riasa, IALF Bali

Latar Belakang

Bahasa Indonesia yang digunakan di kalangan anak remaja (yang lebih dikenal dengan istilah ABG alias Anak Baru Gede) Indonesia saat ini sangat berbeda dengan bahasa Indonesia yang ‘baik dan benar’. Salah satu syarat bahasa yang baik dan benar adalah “pemakaian bahasa yang yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau dianggap baku” atau “pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa “(Moeliono ed., 1991: 19; Badudu, 1989).

Bahasa ABG cenderung memilih ragam santai (Lumintaintang, 2000: 249) sehingga tidak terlalu baku (kaku). Ketidakbakuan tersebut tercermin dalam kosa kata, struktur kalimat dan intonasi. Dalam pilihan kata kita melihat bahwa ‘bilang’ digunakan untuk mengganti kata ‘berkata’, ‘dengerin’ untuk ‘mendengarkan’ serta banyak penggunaan kata dasar seperti ‘baca’, ‘belanja’, ‘beli’, dan ‘bawa’. Untuk menghindari pembentukan kata dengan afiksasi, bahasa ABG menggunakan proses nasalisasi yang diiringi dengan penambahan akhiran –in seperti ‘memperpanjang’ menjadi ‘manjangin’ (>panjang >manjang + in >>manjangin).

Ranah bahasa Indonesia semacam ini merupakan bahasa sehari-hari penduduk Jakarta yang sangat kosmopolitan. Oleh karena itu banyak kalangan yang menyebutnya ragam santai dialek Jakarta (Badudu, 1996: 118). Penggunaan ranah bahasa ABG di Daerah (luar DKI Jakarta) ini banyak dijumpai di kalangan anak sekolah di tingkat SLTP, SMU, dan perguruan tinggi semester bawah. Kalangan remaja di pedesaan pun tampaknya semakin banyak yang menggunakan kosa kata yang diambil dari ranah bahasa ini akibat gencarnya siaran televisi yang sebagian besar tema dan latarnya berkiblat ke Jakarta.

Ragam Bahasa Remaja

Ragam bahasa ABG memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti ‘permainan' > mainan, 'pekerjaan' > kerjaan.

Kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Bentuk-bentuk elip juga banyak digunakan untuk membuat susunan kalimat menjadi lebih pendek sehingga seringkali dijumpai kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Dengan menggunakan struktur yang pendek, pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering membuat pendengar yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan untuk memahaminya. Dalam contoh percakapan berikut antara tokoh Vira dan Alda dalam ‘Atas Nama Cinta’ (Kawanku, 08.XXX 14-20 Agustus 2000) kita melihat bagaimana bahasa ABG ini dibuat begitu singkat tetapi sangat komunikatif. Dalam percakapan ini hanya kalimat pertama yang menggunakan pokok kalimat (subjek) sedangkan sisanya bahkan tidak menggunakan kata ganti orang (pronomina) sama sekali.

“Kamu anak baru, ya?”
‘Iya.”
“Jurusan apa?”
“Komunikasi.”
“Pantesan cantik.”
“Makasih.”
“Eh, mau ini?”
“Apa tuh? Obat, ya?”
“Iya, kalau mau ambil aja.”

Dari contoh di atas jelas sekali bahwa susunan kalimat yang digunakan sangat berbeda dengan kaidah bahasa Indonesia baku atau bahasa yang baik dan benar (Moeliono ed., 1988: 19-20). Kosa kata bahasa remaja banyak diwarnai oleh bahasa prokem, bahasa gaul, dan istilah yang pada tahun 1970-an banyak digunakan oleh para pemakai narkoba (narkotika, obat-obatan dan zat adiktif). Hampir semua istilah yang digunakan bahasa rahasia di antara mereka yang bertujuan untuk menghindari campur tangan orang lain. Dengan semakin maraknya pemakaian narkoba kata-kata seperti ‘sakaw’ atau sakit (withdrawal symptoms), ‘putaw’ atau putih (serbuk heroin berwarna putih) kini semakin dikenal.

Jika di Jakarta ranah bahasa ABG menjadi bahasa sehari-sehari hampir seluruh penduduk ibukota, di luar Jakarta bahasa remaja ini banyak digunakan dan dimengerti oleh kalangan remaja di perkotaan. Di Bali, misalnya, bahasa remaja banyak digunakan di Denpasar dan kota-kota lain terutama di sekolah-sekolah favorit. Hal ini disebabkan anak-anak di perkotaan memiliki akses yang lebih besar terhadap acara televisi (remaja) yang hampir seluruhnya berbasis Jakarta. Di daerah perkotaan juga terdapat kafe, mal, dan pasar swalayan.

Belakangan ini telah diperkenalkan bahasa gaul dengan diterbitkannya Kamus Bahasa Gaul (Sahertian, 1999). Bahasa ini banyak digunakan oleh kalangan waria di Jakarta. Secara perlahan bahasa ini juga merambah kalangan remaja di daerah terutama di kota-kota besar. Kata ‘ember’ (emang benar) kini sudah berterima di antara kelompok masyarakat nonwaria. Dari segi struktur, bahasa gaul tidak jauh berbeda dengan bahasa ABG. Perbedaan utamanya terletak pada kosa kata. Aturan pembentukan kata bahasa gaul cenderung tidak konsisten sehingga untuk mempelajarinya kita harus banyak menghafal. Berikut adalah contoh percakapan dalam bahasa gaul.

Jali-jali di Mal

A: Akika mawar belalang spartakus nih.
B: Emang spartakus yang lambreta napose?
A: Sutra Rusia!
B: Akika mawar belalang Tasmania.
A: Tasmania kawanua yang lambada jugra sutra Rusia?
B: Tinta … pingin gaya atitah!
A: Sihombing loe!
B: Tinta … soraya kayangan anjas! He … he …
(Sahertian, 1999: 23-25)

Cerpen Remaja

Yang dimaksud dengan cerpen ramaja dalam tulisan ini adalah cerita pendek yang diperuntukkan bagi kaum remaja. Hal ini bisa dilihat dari tokoh yang ada di dalam cerpen. Mereka biasanya anak sekolah menengah umum atau mahasiswa bawah.

Panjang cerpen rata-rata 1½ - 2 halaman atau 1500 kata yang mungkin juga dipengaruhi juga oleh kebijakan Redaktur dalam menyediakan ruang. Di Indonesia kini terdapat lima buah majalah remaja yang cukup terkenal tetapi untuk penulisan ini saya hanya menampilkan empat saja. Tabel di bawah ini merupakan rangkuman data keempat cerpen tersebut.


Judul Cerpen-------Majalah--------Latar
Atas Nama Cinta-------Kawanku-------Kampus di Jakarta
Kala Cinta Berpaling-------Anita-------Tempat kerja di Jakarta
Song 2-------Hai-------Jakarta, Mataram
Sang Tokoh-------Gadis-------Sekolah di Jakarta

Bahasa dalam Cerpen

Dalam setiap cerpen, penulis cerita menggunakan bahasa Indonesia baku dalam memberikan penjelasan kepada pembaca. Mereka sama sekali tidak menggunakan bahasa ABG. Namun ketika tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita itu berbicara, penulis selalu menggunakan bahasa ABG seperti contoh berikut.

Di kafe Irit Legit, nama kantin yang letaknya di belakang gedung sekolah Riskie dan teman-temannnya membahas perubahan sikap Rico yang cukup signifikan ini.
“Nggak salah denger tuh? Gile si Rico!” kata Udin terheran-heran.
“Lagi mabok kali tu anak,” timpal Amin.
(‘Sang Tokoh’, oleh Ardian Airlangga dalam Majalah Gadis Remaja 12-21 Desember 2000)

a. Kosa Kata

Untuk membentuk kata kerja transitif bahasa remaja cenderung menggunakan proses nasalisasi. Mereka menghindari penggunaan awalan ‘meN-‘ yang cukup rumit. Dengan demikian, pemakai bisa menghindarkan diri dari kesulitan menentukan kombinasi ‘menN – kan’ atau ‘meN – i”. Kesulitan ini diatasi dengan proses ‘N – in’.
Tabel berikut menunjukkan proses morfologi bahasa ABG.

Proses nasalisasi Kata Kerja Aktif + in untuk membentuk KK transitif aktif
pikir > mikirin
ambil > ngambilin
cari > nyariin
tanya > nanyain
les > ngelesin
bawa > ngebawain

Bentuk pasif 1: ‘di + Kata Dasar + in’
Bentuk pasif ini dibentuk dengan menambahkan awalan ‘di- dan akhiran ‘in pada kata dasar,
dua > diduain
jalan > dijalanin
tunggu > ditungguin
ajar > diajarin
batal > dibatalin

Bentuk pasif 2: ‘ke + Kata Dasar’
Bentuk pasif ini yang merupakan padanan bentuk pasif ‘ter’ dalam bahasa Indonesia baku.
Contoh:
tangkep > ketangkep
timbang > ketimbang
peleset > kepeleset
timpa > ketimpa
gaet > kegaet

Penghilangan huruf (fonem) awal
Contoh:
habis > abis
memang > emang
sudah > udah
saja > aja
sama > ama

Penghilangan huruf ‘h’ pada awal suku kata bentuk baku.
Contoh:
tahu > tau
habis > abis
lihat > liat
hati > ati

Pemendekan kata atau kontraksi dari dua kata yang berbeda.
Contoh:
terima kasih > makasih
bagaimana > gimana
kayak lembu > kalem
kurang pergaulan > kuper

Penggunaan istilah lain.
Contoh:
cantik > kece
dia > doski
sahabat > sohib
mati > koit

Penggantian huruf ‘a’ dengan ‘e’.
Contoh:
benar > bener
cepat > cepet
pintar > pinter
balas > bales

Penggantian diftong ‘au’ dengan ‘o’ dan ‘ai’ dengan ‘e’
Contoh:
kalau > kalo
sampai > sampe
pakai > pake

Pengindonesiaan bahasa asing (Inggris).
Contoh:
sorry > sori
comment > komen
top > ngetop
swear > suer
gang > geng

Penggunaan bahasa Inggris secara utuh.

Pengenalan Bahasa ABG di dalam Kelas
Bahasa ABG yang cenderung tidak formal atau tidak baku menurut kaidah yang ditetapkan oleh Pusat Bahasa masih menimbulkan kontroversi termasuk di kalangan pendidik di Indonesia ketika hendak diperkenalkan di dalam kelas. Masih banyak kalangan guru yang berpendapat bahwa bahasa ABG tidak beraturan dan tidak menunjukkan citra bahasa Indonesia yang ‘baik dan benar’. Oleh karena itu para guru di Indonesia tidak memperkenalkan bahasa ini di dalam kelas.

Walaupun ranah bahasa ini tidak diperkenalkan di dalam kelas secara formal, para ABG di Indonesia dengan mudah memahaminya karena bahasa ini merupakan bahasa sehari-hari mereka. Hampir sebagian besar orang Indonesia dapat dengan mudah mempelajari bahasa ini lewat acara televisi yang lebih banyak bernuansa ABG.

Kemudahan seperti yang diuraikan di atas tidak akan bisa diperoleh oleh siswa atau guru yang belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing terutama mereka yang tinggal di luar negeri (termasuk Australia). Hal ini disebabkan karena kurangnya pajanan terhadap bahasa ini. Penyebab lain adalah tidak ada materi yang khusus membahas ranah bahasa ABG ini karena berbagai pertimbangan seperti yang telah diuraikan sebelumnya.

Karena bahasa ABG tidak dimasukkan ke dalam kurikulum, guru bisa memperkenalkan ranah ini secara proporsional sesuai dengan alokasi waktu dan minat para siswa. Yang perlu disampaikan kepada siswa adalah bahasa ABG sangat mudah untuk dipelajari karena struktur morfologi dan kalimatnya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan bahasa Indonesia baku.

Akan tetapi perlu diingat bahwa setiap ranah bahasa memiliki sejumlah aturan yang membatasi pemakaiannya. Karena bahasa ini merupakan bahasa remaja yang cenderung santai, bahasa ini tentu tidak patut jika digunakan dalam situasi resmi yang melanggar ketentuan mengenai kepatutan ujaran (lihat Gunarwan, 1996: 358-363; Hymes, 1971: 278). Perlu disadari pula bahwa ranah bahasa memiliki keterbatasan yang tidak saja terkait dengan pemakaian ranah tersebut tetapi juga dengan individu pemakaiannya.

Kesimpulan

Sebagai ranah bahasa Indonesia, bahasa ABG perlu diajarkan terutama kepada siswa remaja yang telah menguasai bahasa Indonesia baku. Untuk itu, guru perlu menguasai bahasa ini agar bisa memilih seberapa banyak komponen ini perlu diperkenalkan kepada siswa sehingga tidak bertentangan dengan tujuan belajar bahasa Indonesia menurut kurikulum. Jika pengajaran ranah bahasa ini tidak mendapatkan restu dari kurikulum, guru perlu menemukan kiat tersendiri untuk memperkenalkannya kepada murid, terutama jika mereka akan melakukan kunjungan ke sekolah setara di Indonesia.

Kita perlu ingat bahwa siswa harus dilatih untuk memahami bahwa suatu ranah tertentu (termasuk ranah bahasa remaja) memiliki keterbatasan dan jika kita berbicara tentang suatu ragam bahasa kita juga sebenarnya telah mulai memberikan pengakuan terhadap norma individu dan kelompok pemakainya (Wardhaugh, 1989: 6).

*******

Daftar Pustaka

Alwasilah, A. Chaedar, MA, Ph.D. 2000. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia. Bandung, Andira.

Azis, E. Aminuddin. 2000. ‘Usia, Jenis Kelamin, dan Masalah Kesantunan dalam Berbahasa Indonesia’ dalam A. Chaedar Alwasilah, MA, Ph.D. dan Drs. Kholid A. (ed.) Prosiding Konperensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Bandung, Andira.

Badudu, J.S. 1989. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta, PT. Gramedia.

Badudu, J.S. 1996. ‘Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Penutur Asing’ dalam Ida Sundari Husen dkk. Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. Depok Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Gunarwan, Asim. 1996. ‘Kepatutan Ujaran di dalam Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing: Implikasinya bagi Pengajar’ dalam Ida Sundari Husen dkk. Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. Depok Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Hymes, Dell. 1971. ‘On Communicative Competence’ dalam Pride J.B dan Janet Holmes (ed.), Sociolinguistics. Middlesex, Penguin Books.

Lumintaintang, Yayah B. Mugnisjah. 2000. ‘Pemilihan Ragam Bahasa bagi Pengajaran BIPA’ dalam A. Chaedar Alwasilah, MA, Ph.D. dan Drs. Kholid A. (ed.) Prosiding Konperensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Bandung, Andira.

Moeliono, Anton M. ed. 1988. Tata Bahasa Baku Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Perum Balai Pustaka, Jakarta.

Moeliono, Anton M., 1991. Santun Bahasa, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sahertian, Debby. 1999. Kamus Bahasa Gaul. Jakarta, Pustaka Sinar Harapan.

Wardhaugh, Ronald. 1989. An Introduction to Sociolinguitics. Oxford, Basil Blackwell.

[diambil dari situs www.ialf.edu/bipa/march2002/bahasaabg.html]


  
penata: agustinus jam 2:24 PM


Sunday, January 12, 2003  
diutak-atik tahun 2003